Kamis, 10 April 2014

karya tulis ilmiah



MENGATASI KANKER DAN PENYAKIT LAIN MELALUI
JUS KULIT MANGGIS
            


Disusun Oleh           :

Muhammad farid najih            :         5101412043



FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013/2014

BAB I PENDAHULUAN

A.   Latar belakang

Kesehatan adalah suatu anugrah dari Tuhan yang wajib untuk kita syukuri. Terkadang kita lupa akan nikmat-Nya, akan tetapi kita akan menyadari jika kita sedang dalam kesusahan atau sakit. Oleh karena itu kita wajib untuk bersyukur, salah satunya dengan cara menjaga kesehatan tubuh kita. Selain dengan olahraga teratur dan istirahat yang cukup, makanan yang kita konsumsipun membawa pengaruh besar terhadap kesehatan kita. Berhati-hatilah dalam mengkonsumsi makanan, pilihlah makanan dengan bijak. Perbanyaklah mengkonsumsi buah dan sayur, agar kebutuhan nutrisi dalam tubuh kita terpenuhi.
Dewasa ini, telah banyak makanan yang disalahgunakan dan bisa mengakibatkan kita sakit. Selain itu pola hidup kita yang salah juga bisa membawa penyakit dan radikal bebas dapat masuk ke dalam tubuh kita. Sehingga banyak bermunculan berbagai macam penyakit seperti kanker, tumor, diabetes melitus, dan sebagainya.
Sekarang ini telah banyak bermunculan slogan “back to nature” yang artinya kembali ke alam. Disini maksudnya adalah kita memulai lagi pola hidup sehat, mengurangi mengkonsumsi makanan berbahan kimia, mulailah dengan mengkonsumsi banyak buah dan sayur yang bermanfaat untuk tubuh. Salah satunya adalah buah mangis. Dalam karya tulis ini saya akan mengupas tuntas tentang khasiat buah manggis untuk menangkal radikal bebas dan menjaga kesehatan kita. Serta khasiat xanthones di dalam kulit manggis yg mempunyai sejuta manfaat untuk kesehatan.

B.   Perumusan Masalah
Dalam perumusan masalah penulis memebuat beberapa permasalahan yanga selama ini sering menjadi kendala diantaranya :
1.      Apa penyebab penyakit  kanker itu?
2.      Apa kandungan dari kulit manggis tersebut?
3.      Benarkah kulit manggis bisa mengatasi segala penyakit kanker ?
4.      Adakah efek yang ditimbulkan bagi orang yang mengkonsumsi jus kulit manggis tersebut?
5.      Bagaimana cara pembuatan jus kulit manggis itu ?



C.    Tujuan penelitian
Dalam pembuatan makalah ini penulis memiliki tujuan tertentu.  Adapun tujuan tersebut adalah sebagai berikut :
1.        Mengetahui apa saja kandungan gizi yang ada pada kulit manggis
2.        Membuat sebuah solusi bagi penderita kanker dalam upaya  penyembuhan penyakit tersebut.
3.        Memanfaatkan limbah yang selama ini diabaikan.
4.        Memberikan peluang bisnis bagi masyarakat.

D.    Tinjauan Pustaka


Penelitian Vlietinch (1998) memperkuat penelitian sebelumnya yang dilakukan di Cina yang juga menyimpulkan bahwa ekstrak kulit manggis menunjukkan potensi dalam menghambat HIV-1 protease yang mempengaruhi replikasi HIV (Chen et al,1996).
Hasil penelitian Ho et al di Taiwan tahun 2002 menyimpulkan bahwa Garcinone E pada ekstrak kulit manggis mampu mengatasi sel kanker hati, paru-paru dan lambung. A-mangostin merupakan senyawa yang paling kuat melawan kanker. Hasil penelitian juga menunjukkan a-mangostin mampu menghentikan pertumbuhan tumor di dalam usus.
Selain itu, a-mangostin juga mampu menghambat pertumbuhan  sel darah yang rusak pada kasus leukimia melalui induksi apoptosis (Matsumoto et al,2003). Apoptosis adalah kematian sel yang terprogam.
Hasil dan penelitian Mahabusarakam et al (2000) mengindikasikan bahwa xanthones mampu menghambat oksidasi LDL-kolestrol, prostaglandin E2, cyclooxygenases-1, dancyclooxygenases-2 yang merupakan factor kunci saat terjadi inflamasi atau peradangan. Penelitian lain juga membuktikan bahwa mangostin dalam kulit manggis mampu menurunkan kadar LDL (low density lipoprotein) sehingga tidak mampu mengoksidasi atau menyerang dinding arteri yang menyebabkan aterosklerosis.


E.   Landasan Teori
Buah manggis termasuk ke dalam species Garciana mangostana Linn, kelasDitocyledonae, keluarga Guttiferae, dan genus Garciana. Buah manggis memiliki bentuk bulat dengan warna kulit hijau muda bercampur sedikit merah atau merah hati. Buah manggis memiliki empat kelopak yang ada di atasnya yang berwarna hijau. Isi buah manggis berwarna putih, tidak bening salju. Buah manggis memiliki rasa yang khas, perpaduan antara rasa manis, asam dan sedikit sepat. Tak heran jika pangsa pasar dan harga jualnya relative tinggi di beberapa Negara seperti Taiwan, Hongkong, Malaysia, Singapura, Jepang, Belanda dan Arab Saudi.
Berdasarkan data tahun 2006, nilai ekspor buah-buahan di Indonesia di dominasi oleh komoditas manggis. Terbukti sebesar 37,40% ekspor manggis mendominasi total ekspor buah di Indonesia, meskipun produksi manggis hanya sebesar 0,50% total produksi buah-buahan di Indonesia. Ekspor manggis ke luar negeri berkisar 200-350 ton per bulan.
Harga manggis untuk ekspor mencapai 5-10 kali harga pasar local, tetapi persyaratan mutu dari negara pengimpor sangat tinggi. Tingginya persyaratan utu manggis ekspor membuat banyak buah manggis kita yang tidak memenuhisyarat ekspor.Agar dapat di manfaatkan lebih lanjut, buah manggis yang tak layak diekspor dapat diolah menjadi produk olahan buah manggis. Produk makanan atau minuman dari manggis yang dapat di kembangkan petani buah dan pengolah produk makanan di antaranya pembuatan sari buah (jus), koktail, dodol, selai, atau jelly.
Ada pula kerusakan lain pada buah manggis yang menyebabkan tidak dapat di konsumsi dan dijual. Kerusakan fisik tersebut seperti adanya getah kuning penyebab daging buah berasa pahit, daging buah transparan atau bening dan berair (disebut putih salju), serta kulit buah manggis yang sangat keras sehingga sulit dikupas. Jika buah manggis mengalami tiga kerusakan di atas, maka harus dipisahkan atau dibuang karena akan merusak kualitas olahan secara keseluruhan.
Salah satu penyakit akibat infeksi virus yang ditakuti banyak orang karena belum ada obatnya adalah HIV. HIV merupakan penyakit yang menyerang system kekebalan tubuh manusia. Mangostin xanthones yang terkandung dalam kulit manggis telah dibuktikan mampu menghambat siklus replikasi virus HIV (Vlietinch,1998).



F.     Metode Penelitian

Dalam membuat makalah ini penulis menggunakan beberapa metode dalam membuat makalah ini, adapun metode – metode yang digunakan dijelaskan sebagai berikut :
1.      Pengumpulan data
 Metode pertama yang penulis lakukan dalam upaya pembuatan makalah ini dengan mengambil informasi – informasi atau pengambilan data yang berkaitan dengan kulit manggis dan kandungannya. Adapun pada metode pengumpulan data ini penulis menggunakan 2 sumber data yaitu :
a.       Observasi
Pada pengumpulan yang dilakukan yaitu penulis melihat langsung kondisi dilpangan dimana banyak penderita kanker yang belum terobati dan banyak kulit manggis yang terbuang percuma justru bisa menjadi sumber limbah.
b.      Studi pustaka
Pada metode studi pustaka penulis mencari referensi – referensi buku ataupun karya – karya penelitian yang berhubungan dengan manggis dan kandungan gizi serta upaya dalam membantu mengobati penyakit kanker.
2.      Analisis data
Setelah melakukan metode pengumpulan data penulis melakukan langkah kedua dengan menganalisis dari sumber – sumber informasi yang telah didapatkan untuk mengambil sebuah tujuan tertentu dari gabungan pengumpulan data untuk dijadikan menjadi sebuah kesatuan yang mewakili dari tujuan penulis membuat makalah ini.
3.      Penyajian data

Dalam penyajian data penulis menggunakan 2 cara yaitu berupa informasi informasi non verbal dengan menjelaskan setiap sumber sumber yang mendukung tujuan dari penulis tentang manggis dan kandungannya  yang diperkuat dengan informasi –informasi verbal seperti tabel.
BAB II PEMBAHASAN


A.    Penyebab Kanker

Sampai saat ini, penyebab kanker belum diketahui pasti. Ada banyak faktor penyebab yang dapat menimbulkan kanker pada binatang percobaan. Namun, hal ini belum sepenuhnya dapat dibuktikan pada manusia, walaupun patut mendapat perhatian. Gaya hidup modern dewasa ini juga dapat meningkatkan risiko per­tumbuhan kanker. Misalnya saja kebiasaan merokok, konsumsi minuman keras yang berlebihan, banyak makan makanan berlemak, dan berganti-ganti pasangan seksual.
Karsinogen secara umum dapat diartikan sebagai penyebab yang dapat me-rangsang pembentukan kanker.  Beberapa karsinogen yang diduga dapat me­ningkatkan risiko terjadinya kanker sebagai berikut.
(a)        Senyawa kimia (zat karsinogen)
Banyak senyawa kimia yang dapat mempengaruhi timbulnya kanker pada berbagai macam jaringan. Misalnya sisa-sisa dari industri batubara, ter (jelaga), zat pewama, zat pengawet, bahan tambahan pada makanan dan mi­numan, karbon tetraklorida (CC14, asbes, merkuri, arsen, kromium, benzene, kloramfenikol, fenilbutason, senyawa nitrosamin, aflatoksin B aflatoksin G , asap rokok, dan sitostatika (alkil).
Kanker kulit banyak ditemukan pada pekerja pabrik cat dan pekerja yang . membersihkan cerobong asap karena adanya kandungan senyawa hidrokarbon.Kanker paru banyak ditemukan pada perokok dan perokok pasif karena menghirup kandungan nikotin (tar).
Keberadaan senyawa tersebut dalam tubuh dapat dicegah dengan menghindari makanan yang mengandung lemak tinggi makanan yang diawetkan,termasuk makanan yang diasinkan, diasap, dan dipanggang, makanan yang disimpan terlalu lama karena dapat tercemar aflatoksin yaitu suatu zat beracun yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus, pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin; dan jangan menggunakan minyak sayur yang dimasak terlalu panas karena teroksidasi dan terbentuknya radikal bebas yang memicu pembentukan kanker.
(b)        Faktor fisika
Faktor fisika yang terutama adalah radiasi seperti bom atom dan radioterapiagresif (radiasi sinar pengion). Kanker kulit dapat ditimbulkan akibat sinar ultraviolet yang berasal dari matahari. Kanker kulit dan leukemia dapat ditimbulkan oleh sinar radioaktif seperti sinar X dan sinar radiasi bom atom.Gesekan atau benturan pada salah satu bagian tubuh yang berulang dalam jangka waktu lama merupakan rangsangan yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker pada bagian tubuh tersebut.  Hal ini disebabkan luka ataucedera pada tempat tersebut tidak sempat sembuh dengan sempuma.
(c)        Virus
Pada binatang percobaan, virus jelas dapat menyebabkan kanker. Pada manusia hal ini belum dapat dipastikan, tetapi beberapa jenis virus berhubungan erat dengan perubahan sel normal menjadi sel kanker. Jenis virus ini disebut virus penyebab kanker atau virus onkogenik. Terjadinya kanker hati (Hepatoma) meningkat tajam pada penderita hepati­tis kronis akibat virus hepatitis B dan C (VHB & VHC). Kanker serviks dihubungkan dengan terinfeksinya oleh human papilloma virus.
(d)       Hormon
Hormon adalah zat yang dihasilkan oleh kelenjar tubuh yang berfungsi mengatur kegiatan alat-alat tubuh. Diethyl stilbestrol, suatu hormon seks buatan yang umumnya digunakan untuk menggemukkan hewan ternak, terbukti sebagai penyebab timbulnya kanker rahim, payudara, dan alat reproduksi lainnya.
Pada beberapa penelitian diketahui bahwa pemberian hormon tertentu secara berlebihan dapat menimbulkan kanker pada organ tubuh yang dipengaruhinya, seperti payudara, rahim, indung telur, dan prostat. Pengaruh hormon sehingga dapat menyebabkan kanker belum diketahui dengan pasti.


Buah Manggis (Garcinia Mangostana) adalah buah asli dari kepulauan nusantara yang saat ini begitu sangat populer. Bagaimana tidak? Buah yang rasanya manis dan kaya kandungan vitamin C ini sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Selain itu buah manggis bersifat antiinflamasi dan    antioksidan dan di luar negeri dinobatkan sebagai buah dengan antioksidan tertinggi di dunia. 
Disamping manfaat yang terkandung dalam buah manggis dan berbagai khasiat dari buah manggis, kulit manggis ternyata juga  tidak kalah bermanfaat dan berkhasiat bagi kesehatan tubuh. Xanthone merupakan senyawa yang terkandung di dalam kulit buah manggis yang juga mengandung antioksidan yang tinggi. itulah sebabnya bukan hanya buahnya saja yang populer, namun kini sudah banyak negara yang mengembangkan produk-produk dari bahan kulit manggis sebagai ramuan herbal yang berkhasiat bagi kesehatan tubuh manusia. 
Namun akibat mahalnya produk-produk jadi dari kulit buah manggis tentunya bagi sebagian orang akan mencari cara bagaimana memanfaatkan kulit buah manggis tanpa mengurangi khasiat dari kulit manggis tersebut. Tidak mungkin juga begitu buah manggis sudah habis langsung mengunyah kulitnya begitu saja karena rasanya jelas sangat pahit dan sepat. Salah satu cara termudah dan termurah mengolah kulit manggis sebagai penunjang kesehatan adalah dengan membuatnya menjadi jus kulit manggis.
Untuk membuatnya perlu sedikit kesabaran dan beberapa campuran untuk setidaknya meminimalisir rasa pahit dan sepatnya kulit manggis tersebut (terkecuali memang tidak masalah dengan rasa pahit). Di sini akan dibahas mengenai Cara Membuat jus Kulit Manggis Yang Benar Dan Sehat. Beberapa bahan dan hal-hal yang perlu disiapkan dan diperhatikan adalah sebagai berikut.

Bahan dan peralatan untuk membuat Jus Kulit Manggis :
  • Buah Manggis secukupnya (untuk untuk 1 orang bisa menggunakan 2-4 buah manggis, sesuai selera)
  • Air Putih yang sudah matang, untuk campuran membuat jus
  • Madu adalah alternatif terbaik untuk yang tidak suka rasa pahit
  • Gula rendah kalori juga baik sebagai pengurang rasa pahit dan sepat (gunakan gula aren)
  • Blender untuk membuat jus.
Cara membuat Jus Kulit Manggis :
  1. Pilihlah kulit buah manggis yang bagus (jika ada) agar tidak perlu susah membersihkan.
  2. Bersihkan dahulu bagian dalam kulit manggis dengan mencuci dengan air bersih agar kotoran yang melekat hilang, lalu bersihkan bagian dalam kulit manggis dengan mengeroknya dengan sendok kecil. Hati-hati dengan kulit yang berwarna hitam dan getah kuning sebaiknya dihindari agar jus tidak pahit dan sepat.
  3. Jika sudah bersih langkah selanjutnya adalah merebus kulit manggis tersebut dengan air secukupnya (langkah ini merupakan langkap optional untuk mengurangi rasa pahit dan sepatnya). Jangan membuang air rebusan karena air rebusan tersebut juga bermanfaat untuk berbagai macam terapi kesehatan. simpanlah di lemari pendingin untuk digunakan suatu waktu.
  4. Masukkan kerokan kulit dalam manggis atau kerokan kulit yang sudah direbus (pada langkah sebelumya) kedalam blender. Tambahkan bahan-bahan campuran jika diperlukan seperti madu, gula aren, atau alternatif lain sebagai bahan campuran untuk mengurangi rasa pahit dan sepatnya.
  5. Jus kulit Manggis pun siap diminum dan rasakan khasiatnya.
C.    Akibat Konsumsi Jus Kulit Manggis
Tak hanya bisa diolah menjadi berbagai produk, ternyata kulit manggis dapat digunakan dalam pengobatan tradisional, seperti mengobati penyakit kulit, diare dan disentri. Penelitian tentang khasiat kulit manggis telah dilakukan di berbagai Negara. Khasiat tersebut terletak pada kandungan senyawa antioksidan kompleksnya, yaitu xanthones. Namun, baru awal abad ini dilakukan ekstraksi kulit manggis dan diproses lanjut menjadi produk suplemen kesehatan.
Salah satunya adalah jus xanthone, jus yang banyak dijual di tempat penjualan buah ini sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Serta dapat mengobati berbagai macam penyakit. Khasiat jus xanthone ini telah terbukti, telah banyak orang yang mengkonsumsi dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Jus xanthone ini terbuat dari konsentrasi jus buah (keseluruhan bagian buah manggis), bunga roselle, apel, anggur, dan bahan pengawet digunakan madu murni sehingga terbebas dari bahan kimia.

Aturan pakai dan efek samping :
  • Disarankan dan sebaiknya diminum setelah makan.
  • Agar hasilnya lebih maksimal diminum secara rutin dan harus sering kontrol ke dokter.
  • Pada permulaan meminun jus mungkin akan terasa mual karena belum terbiasa.
  • Bila dalam proses pembuatan tidak higenis memungkinkan masih adanya bakteri tertentu sehingga mengakibatkan gatal gatal atau alergi.



D.     Kandungan Gizi Buah dan Kulit Manggis dan Manfaatnya dalam mengobati kanker
                        
            Ada beberapa kandungan pokok pada buah dan kulit manggis diantaranya dijelaskan sebagai berikut.
a.       Xanthones, Senyawa Berkhasiat dalam Kulit Manggis
Berbeda dengan buah-buahan pada umumnya, manfaat terbesar buah manggis bagi kesehatan bukan terletak pada daging buahnya, melainkan pada kulit buahnya. Di dalam kulit buah manggis (pericarp) terdapat komponen yang bersifat antioksidan. Zat ini disebut denganxanthones.
Meskipun daging buah manggis mengandung vitamin C yang juga merupakan sumber antioksidan alami, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Berikut ini kandungan zat gizi buah manggis.
Tabel. Kandungan Zat Gizi dalam 100 gram Buah Manggis
Komponen Zat Gizi
Jumlah
Energi
Protein
Lemak
Karbohidrat
Kalsium
Fosfor
Zat Besi
Natrium
Kalium
Vitamin B1
Vitamin B2
Niasin
Vitamin C
Kadar Abu
Kadar Air
34 kalori
0,6 gram
1 gram
5,6 gram
7  mg
4 mg
1 mg
7 mg
19 mg
0,03 mg
0,03 mg
0,3 mg
4,2 mg
0,1 gram
87,6 gram

Sebelum membahas antioksidan dalam buah manggis, tidak ada salahnya kita mengetahui tentang peran antioksidan untuk kesehatan dan pemicu terbentuknya radikal bebas. Fungsi utama antioksidan adalah melawan (menetralisir) prooksidan atau lebih dikenal sebagai radikal bebas. Antioksidan mampu menghambat proses penuaan organ tubuh, mencegah penyakit jantung, mencegah kanker, mencegah kebutaan, serta meningkatkan system kekebalan tubuh.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa mengkonsumsi antioksidan dari makanan (misalnya vitamin C dari lemon) dalam jumlah besar dapat meningkatkan kemampuan antioksidan dalam darah sebesar 10-25%. Dampak yang ditimbulkan diantaranya dapat mencegah kepikunan dan penurunan pendengaran, mempertahankan kemampuan sel otak, dan melindungi pembuluh darah kapiler dari kerusakan akibat proses oksidasi.
Radikal bebas merupakan molekul yang tidak stabil karena kehilangan elektronnya. Untuk menjadi stabil, radikal bebas akan mengambil electron dari molekul atau sel lain dalam tubuh kita. Proses pengambilan electron dari sel-sel tubuh kita menyebabkan kerusakan sel. Dengan kata lain, radikal bebas akan menyerang tubuh kita terutama merusan protein, sel, dan jaringan dalam organ tubuh. Bentuk serangan tersebut sebenarnya merupakan upaya radikal bebas untuk menstabilkan diri. Tubuh kita memproduksi radikal bebas akibat terjadinya proses oksidasi. Namun,sesungguhnya tubuh kita juga memproduksi antioksidan yang akan menetralisir radikal bebas tersebut. Masalahnya apabila radikal bebas yang ada di dalam tubuh kita terlalu banyak dan tidak seimbang dengan antioksidan yang tersedia, maka sel kitalah yang akan menjadi sasaran.
Serangan radikal bebas secara terus-menerus  akan memicu terjadinya penuaan dini dan penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, aterosklerosis, osteoporosis, kanker, sirosis hati, alzheimer, obstruksi paru, diabetes, ginjal kronik dan stroke. Semakin banyak radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh kita, resiko terserang berbagai penyakit juga akan semakin besar. Agar tubuh tetap sehat, maka paparan radikal bebas harus dinetralisir oleh antioksidan yang ada di dalam tubuh kita.

b.      Antioksidan dalam Manggis

Komponen penting yang paling bermanfaat pada kulit manggis adalah xanthones. Telah banyak klaim mengenai kehebatan xanthones yang dipublikasikan di berbagai jurnal atau artikel. Hal ini disebabkan sifat xanthones yang memiliki aktifitas sebagai antikanker, antibakteri, dan antiinflamasi. Selain itu, xanthones juga berpotensi untuk memelihara kesehatan system imunserta mendukung kesehatan mental, serta mendukung keseimbangan mikrobiologi, serta meningkatkan kelenturan sendi.
Xanthones merupakan senyawa keton siklik polipenol dengan rumus molekul C13H8O2. Struktur dasar xanthones terdiri dari tiga benzena dengan satu benzena di tengahnya yang merupakan keton. Hampir semua molekul turunan xanthones mempunyai gugus penol. Oleh karena itu, xanthones sering disebut polipenol. Xanthones atau sering disebut xanthenone, biasanya terdapat dalam tanaman keluarga Bonnetiaceae, Cluciaceae, dan Podostemaceae. Xanthones memiliki 200 jenis zat turunan dan 40 di antaranya terdapat dalam kulit manggis.

c.       Kekuatan Antioksidan dalam Xanthones

Akhir-akhir ini banyak penelitian yang mengungkapkan kandungan antioksidan dari berbagai jenis makanan. Banyak bahan makanan di alam yang mengandung antioksidan dalam konsentrasi tinggi dan dapat menetralisasi radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh.
Beberapa contoh antioksidan yang hampir setiap hari kita konsumsi adalah vitamin A, C, E dalam sayur dan buah segar. Tak hanya itu, flavonoid yang terkandung dalam teh hijau juga bersifat antioksidan sehingga berkolerasi dalam pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah (Roberge et al,1994).
Kekuatan antioksidan dihitung dari kemampuannya dalam menetralisasi gugus radikal bebas. Kemampuan tersebut dihitung dengan satuan ORAC (oxygen radical absorbance capacity), yaitu kemampuan dalam menyerap radikal oksigen. Dibandingkan dengan kandungan antioksidan pada buah-buahan lain, kandungan antioksidan pada manggis kedua terbesar setelah buah wolfberry yang tumbuh di daerah tertentu di Cina.
Xanthones merupakan gabungan molekul yang terdiri atas berbagai senyawa kimia yang berpotensi sebagai antioksidan dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Ternyata sejak berabad-abad yang lalu, kulit manggis telah dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional. Sekarang, berbagai penelitian mengenai khasiat dan manfaat xanthones telah dilakukan di berbagai negara. Berikut ini beberapa hasil penelitian mengenai khasiat dan manfaat xanthones bagi kesehatan
-          Sebagai antiinflamasi
Inflamasi atau peradangan merupakan proses perlindungan sel darah putih bersama senyawa kimia lain dalam melindungi tubuh dari infeksi oleh benda asing, seperti bakteri dan virus. Lebih mudahnya, inflamasi adalah respon jaringan tubuh terhadap kerusakan. Akibat umum inflamasi adalah radang sendi, alergi (contoh: asma), dan sakit kepala.
-          Sebagai antibakteri
Xanthones bersifat anti-mikrobia terhadap MRSA (methicillin-resistant staphylococcus aureus), yaitu bakteri yang telah kebal terhadap obat antibiotik yang dapat menyebabkan infeksi parah. Bakteri ini sangat menakutkan karena dalam waktu singkat akan memakan sel-sel tubuh manusia. Bakteri ini dapat menyebabkan cacat fisik dan kematian pada penderitanya.
-          Sebagai antijamur
Xanthones juga memiliki kemampuan untuk menghambat aktivitas kapang atau jamur. Penyebab penyakit atau fitophatogenik. Beberapa contohnya adalahFusarium oxysporum V, Alternaria tenuis, dan Dreschlera oryzae (Cochliobolusmiyabeanu).
-          Sebagai antivirus
Salah satu penyakit akibat infeksi virus yang ditakuti banyak orang karena belum ada obatnya adalah HIV. HIV merupakan penyakit yang menyerang system kekebalan tubuh manusia. Mangostin xanthones yang terkandung dalam kulit manggis telah dibuktikan mampu menghambat siklus replikasi virus HIV (Vlietinch,1998).
Hasil penelitian Vlietinch (1998) memperkuat penelitian sebelumnya yang dilakukan di Cina yang juga menyimpulkan bahwa ekstrak kulit manggis menunjukkan potensi dalam menghambat HIV-1 protease yang mempengaruhi replikasi HIV (Chen et al,1996). Tampaknya mekanisme kerja xanthones berbeda dengan obat antiretroviral (ARV).
-          Sebagai antidiabetes
Penelitian di jepang pada tahun 2001 menyebutkan bahwa komponenmangiferin pada kulit manggis mampu menurunkan kadar gula darah pada tikus percobaan penderita diabetes. Mangiferin mampu menurunkan kejadian resistensi insulin.
-          Sebagai antikanker
Xanthones  dari kulit manggis dibuktikan berpotensi sebagai antikanker dan antitumor pada tikus percobaan. Walaupun secara ilmiah baru dilakukan pada tikus percobaan, tetapi kenyataan ini telah membuka mata para ilmuan untuk meneliti khasiat ekstrak kulit manggis lebih lanjut secara nyata. Hasil penelitian Ho et al di Taiwan tahun 2002 menyimpulkan bahwa Garcinone E pada ekstrak kulit manggis mampu mengatasi sel kanker hati, paru-paru dan lambung. A-mangostin merupakan senyawa yang paling kuat melawan kanker. Hasil penelitian juga menunjukkan a-mangostin mampu menghentikan pertumbuhan tumor di dalam usus. Selain itu, a-mangostin juga mampu menghambat pertumbuhan  sel darah yang rusak pada kasus leukimia melalui induksi apoptosis (Matsumoto et al,2003). Apoptosis adalah kematian sel yang terprogam.
-          Potensi xanthones dalam mencegah dan mengatasi penyakit jantung
Xanthones memiliki sifat antitrombotik dan antiplatelet (menghambat agregasi platelet). Selain itu, bersifat vasorelaxation (penurun tekanan darah pada dinding pembuluh) yang bersifat protektif terhadap penyakit kardiovaskular (penyakit jantung iskemi dan aterosklerosis), hipertensi, dan trombosit. Hasil dan penelitian Mahabusarakam et al (2000) mengindikasikan bahwa xanthones mampu menghambat oksidasi LDL-kolestrol, prostaglandin E2, cyclooxygenases-1, dancyclooxygenases-2 yang merupakan factor kunci saat terjadi inflamasi atau peradangan. Penelitian lain juga membuktikan bahwa mangostin dalam kulit manggis mampu menurunkan kadar LDL (low density lipoprotein) sehingga tidak mampu mengoksidasi atau menyerang dinding arteri yang menyebabkan aterosklerosis.



























BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari hasil penelitian bebrapa pihak terkait yang tertarik meneliti buah manggis dan kulitnya dengan mempalajari kandungan gizinya mengambil kesimpulan bahwa dalam kulit manggis terdapat zat antioksidan yang mampu membantu mangurangi penyakit kanker yang diderita manusia. Dengan adanya penelitian seperti ini orang – orang yang terkena penyakit kanker tidak perlu gundah dan risau karena ada obat untuk menyembuhkannya walaupun memang belum banyak orang yang tahu. Semoga dengan adanya penemuan tersebut cukup membantu penderita kanker dalam menyembuhkan penyakit yang mematikan seperti itu.
B.     Saran
Sebelum mengunakan jus kulit manggis ini sebaiknya penderita kanker berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter agar ketika mengkonsumsi jus tersebut tidak mengalami efek samping yang justru bisa membahayakan. Selain itu ketika membuat jus kulit manggis sebaiknya dilakukan dengan prosedur yang benar dan baik agar hasilnya lebih maksimal.

C.    Daftar Pustaka
Kastaman, Roni.  2006.  Buah Manggis dan Kandungannya . Jakarta: Yrama Widya.
Huda, khoirul. 1998. Ciri – Ciri dan Penyebab Kanker. Medan: Surya Karya.
Purwanto, Gamawan, dan Noor  Istiqomah.  2001.  Pengobatan Kanker dengan                              Ramuan Tradisional.  Bandung:  Citra Mustika.
Efendi, Suparno. 2002. Kajian Pengembangan Komoditi Manggis.Tasikmalaya:    Angkasa.
Setiawan, Beni. 2000. Cara Pembuatan Jus Aneka Buah. Surabaya: Karya Setia.



karya ilmiah

Minggu, 06 April 2014

penelitian



PEMANFAATAN LIMBAH AIR PERENDAMAN KEDELAI

        I.            PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang Masalah

Aktifitas manusia dalam memanfaatkan bahan makanan selalu meninggalkan bahan sisa yang kadang dianggap tidak ada gunanya lagi sehingga hanya di perlakukan sedemikian rupa tanpa ada olahan terlebih dahulu yang bahkan apabila langsung dibuang begitu saja tentu bisa menimbulkan efek negatif bagi lingkungan sekitar yang menggangu kehidupan sekitar baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Berbagai limbah yang ditimbulkan dari hasil industri bahan makanan tentu masih banyak mengandung senyawa – senyawa tertentu bahkan banyak pula yang mengandung bahan – bahan kima berbahaya yang bisa merusak lingkungan sekitar.
Salah satu limbah hasil pengolahan bahan makanan yang sering kita manfaatkan bahan makanannya adalah olahan dari bahan dasar kedelai.Kedelai ini yang selama ini telah banyak dimanfaatkan menjadi tempe, tahu, kecap, dan lain-lain tentu sangat banyak manfaat yang dihasilkan bagi orang yang mengkonsumsinya karena kandungan protein yang cukup tinggi, tetapi masih ada hal yang perlu diperhatikan dari hasil pengolahan bahan makanan tersebut yang memang selama ini kurang memperhatikan limbah yang dihasilkan dari bahan kedelai tersebut,kedelai yang telah diolah menjadi berbagai macan bahan tersebut tentu masih menyisahkan limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal,baik dari limbah yangberwujud padat maupun limbah berwujud cair,limbah yang dihasilkan dari proses pambuatan tahu misalnya yang berupa kulit ari dan ampas tahu yang sudah mulai pemanfatan yang cukup maksimal yakni bisa dibuat tepung yang bisa diolah lagi menjadi produk lain yang lebih bermanfaat.



Limbah lain yang selama ini kurang diperhatikan adalah limbah cair yang hanya dibuang begitu saja tanpa ada proses pemanfaatan mengurangi limbah cair yang akan mencemari lingkungan karena limbah cair dari olahan kedelai masih banyak mengandung protein yang apabila tercampur disaluran air akan menimbulkan bau yang tidak sedap.Limbah cair yang lumayan banyak dihasilkan adalah air hasil rendaman kedelai,yang proses perendaman ini berfungsi untuk mempermudah dan menurunkan kadar asam yang dikandung dan lebih memudahkan dalam proses olahan selanjutnya.
Dampak negatif yang ditimbulkan inilah membuat acuan bias dimanfaatkan lebih baik dan memiliki nilai bisnis yang cukup menjanjikan yaitu menjadikan air perendaman kedelai sebagai media dalam pembuatan nata .Sebelumnya telah ada berbagai produk nata yang dihasilkan seperti nata de coco yang medianya adalah air kelapa, nata de soya yang medianya adalah air jatu / air limbah pengepresan tahu maupun nata de pina yang menggunakan media nanas, dan sekiranya dengan mengolah limbah berupa air perendaman kedelai bias sedikit mengurangi dampak bagi lingkungan yang disebabkan karena limbah cair tersebut.

1.2.   Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan dapat dirumuskan permasalahan – permasalahan sebagai berikut :
1.      Apa dampak limbah air perendaman kedelai bagi lingkungan?
2.      Apakah bisa air perendaman kedelai dijadikan olahan yang bernilai ekonomis dan menguntungkan ( dijadikan NATA)?
3.      Adakah kandungan dari air perendaman tersebut yang berbahaya jika dikonsumsi manusia.

1.3.    Tujuan Program

 Progran ini diharapkan mampu mengurangi masalah pencemaran lingkungan akibat limbah perendaman kedelai. Adapun tujuan-tujuan dari makalah ini antara lain :
1.      Memberikan Penjelasan bagaimana dampak pencemaran dari air perendaman kedelai?
2.      Memberikan salah satu solusi dalam pemecahan permasalahan lingkungan?
3.      Memberikan peluang bisnis bagi pelaku usaha olahan kedelai dalam upaya meningkatkan kesejahteraan?
1.4.     Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan yang telah diuraikan diatas sebelumnya sebagai berikut :
1.      Menggunakan studi pustaka sebagai referensi dalam pembuatan makalah ini.
2.      Menggunakan metode studi kasus lapangan disebuah industri olahan kedelai.

Sabtu, 05 April 2014

teori belajar

TEORI DAN PSIKOLOGI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN SAINS
DI SEKOLAH DASAR

Oleh: Rafiuddin
Staf Mengajar Jurusan Pendidikan Agama Islam STAI AL Amanah Jeneponto
 Abstract
 The theory of learning in science learning is the ability children in cognitive learning, a teacher should look for a solution and think about learning and studying psychology. An understanding of psychology and the theories of how students learn and how to apply the theory in the classroom. Experts assess and study the nature of learning in many ways so that it can happen resemblance or similarity between the theory that one with the other theories, are complementary and not closed any possibility of conflicting theories. Because each theory has advantages and weaknesses of their own, the more important thing to note is that the user can appropriately use the advantages of each theory class each
Science learning for children requires an understanding of concepts and the ability to link between the concepts that have been held in cognitive structure, with a constructivist approach teachers are expected to be able to become facilitators for children in an effort to actualize the ability of children who are still buds and further developing what is little or only partially actualized , to the maximum extent possible in accordance with existing conditions.
 PENDAHULUAN
             Siswa Sekolah Dasar (SD) yang seharusnya masih menggunakan konsep pendidikan bermain sambil belajar mulai menghilang, nama-nama benda yang biasa dilihat disekitarnya, nama jenis tumbuhan, nama-nama binatang mulai tidak dikenal. Setelah mulai masuk Sekolah Dasar, anak-anak mulai diperkenalkan lingkungan yang asing melalui bacaan, gambar-gambar dan ceramah dari gurunya. Anak-anak mulai diajak berkhayal di dunia yang masih asing baginya. Proses tersebut berlangsung berulang-ulang, sehingga menjadi kebiasaan. Mengapa hal tersebut terjadi? Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan pendidikan khususnya pada anak-anak Sekolah Dasar yang memiliki beban belajar yang diperyaratkan sangat besar. Beban belajar yang dipersyaratkan yang harus ditanggung di SD sangat berat (9 mata pelajaran), belum lagi masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang sebagian besar bersifat menghafal (menghayal) hal-hal terpisah dari kemampuan dan tuntutan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sejak masa kanak-kanak para siswa telah dikondisikan dengan pencapaian target kuantitatif yang sangat berat.
            Kurikulum yang diterapkan selama ini  lebih menekankan pada keseragaman kemampuan intelektual siswa dari pada berkembangnya kemampuan dasar siswa. Siswa diajar dengan metode, ruang dan bobot kurikulum yang sama. Metode yang menonjol adalah metode ceramah dengan model teks book yang menempatkan siswa sebagai pendengar, pencatat dan penghafal kelas tinggi. Semua siswa mengikuti pelajaran yang di standarisasi. Menurut Drost (1998:9) di Eropa dan Australia kurikulum SLTP dan SMU diikuti 25% sampai 30% siswa yang pandai. Di indonesia kurikulum seberat itu harus diikuti oleh 100% anak sekolah indonesia dapat dibayangkan bahwa ternyata sekitar 70% siswa di SLTP maupun SMU akan mengalami kegagalan. Disamping itu melekatnya budaya paternalistik di kalangan pendidik, sistem pembelajaran yang menempatkan guru sebagai sosok sumber belajar masih sangat dominan.
Dengan hal ini, maka penulis berharap dengan adanya tulisan tersebut maka mahasiswa ataupun guru dapat mempelajari Teori dan psikologi Belajar bagi mahasiswa dan dapat menerapkan teori tersebut dan “menularkannya” kepada calon guru SD nantinya agar tidak menjadi guru yang gagal mengantarkan anak didiknya untuk berhasil dan mengembangkan kemampuan dasar anak didik sebagai pondasi awal bagi anak dalam mengeyam pendidikan formal disekolah.
 TEORI-TEORI
 Psikologi Pembelajaran Sains
            Sebagian besar orang memahami bahwa psikologi membahas tentang bagaimana seseorang belajar, tentang bagaimana orang tersebut melakukan atau melaksanakan suatu tugas, dan tentang bagaimana ia berkembang. Meskipun demikian ada beberapa pertanyaan yang terkait dengan pemebelajaran sains di SD yaitu :
  1. Daripada hanya mengkaji tentang bagaimana cara siswa berpikir ketika sedang mengerjakan tugasnya, mengapa kita tidak mengkaji bagaimana cara seseorang berfikir ketika ia sedang belajar sains?
  2. Daraipada hanya membahas atau mengkaji tentang bagaimana pemahaman konsep dapat berkembang dibenak siswa, mengapa kita tidak mengkaji tentang bagaimana pemahaman konsep Sains dapat berkembang di dalam struktur kognitif siswa?
Pemahaman teori-teori tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana mengaplikasikan teori tersebut di kelas. Para ahli mengkaji dan mempelajari hakikat belajar dari berbagai segi sehingga bisa saja terjadi kemiripan atau kesamaan antara teori yang satu dengan teori yang lainnya, saling melengkapi dan tidak tertutup kemungkinan ada teori yang saling bertentangan. Sains adalah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya melalui metode ilmiah. Dengan kata lain metode ilmiah merupakan ciri khusus yang dapat dijadikan identitas dari sains. Sains dipandang sebagai suatu cara atau metode untuk dapat mengamati dunia, dimana cara pandang sains terhadap sesuatu berbeda dengan cara pandang biasa. Cara pandang sains bersifat analisis dengan melihat sesuatu secara lengkap dan cermat serta dihubungkannya dengan objek lain (Shadiq, Fajar. 1991:9)
Untuk dapat memahami sains, ada beberapa aspek yang perlu dipahami yaitu : (1) sains sebagai institusi yaitu eksistensinya di dalam masyarakat merupakan suatu bidang profesi seperti halnya bidang-bidang profesi lainnya (2) sains sebagai metode yang mempunyai langkah-langkah tertentu yang merupakan pola berfikir deduktif maupun induktif , (3) sains sebagai kumpulan pengetahuan ilmiah yang disusun secara logis dan sistematis, (4) sains sebagai factor utama untuk memelihara dan mengembangkan produksi guna kesejahteraan manusia, (5) sains sebagai factor utama yang mempengaruhi kepercayaan dan sikap manusia terhadap alam semesta dan manusia (Sri Esti Wuryani Djiwandono. 1989:46).
Sains dapat dilihat sebagai suatu metode yang merupakan suatu perangkat aturan-aturan untuk memecahkan masalah atau untuk mengetahui penyebab dari suatu kejadian untuk mendapatkan teori atau hukum-hukum ataupun  teori dari objek yang diamati, penyelidikan ilmiah secara sederhana. 
 Hirarki Belajar : Teori dari Gagne
            Para guru IPA, IPS, Matematika Bahasa Indonesia ataupun mata pelajaran lain tentu sudah memahami bahwa suatu sub pokok bahasan diajarkan mendahulu pokok bahasan lainnya. Disamping itu pengetahuan lebih sederhana harus dikuasai siswa terlebih dahulu dengan baik agar ia dapat dengan mudah mempelajari pengetahuan yang lebih rumit. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa sub pokok bahasan harus diajarkan mendahului sub pokok bahasan lainnya ? atas dasar apa penentuan itu ? apakah didasarkan pada keinginan guru ?
            Menjawab pertanyaan diatas Gagne memberikan alasan pemecahan dan pengurutan materi pembelajaran berangkat dari pertanyaan ‘Pengetahuan apa yang harus lebih dahulu dikuasai oleh siswa agar ia berhasil menguasai suatu pengetahuan tertentu ‘ sampai mendapatkan ururtan-ururtan pengetahuan dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, dengan cara demikianlah kita akan mendapatkan hirarki belajar.
            Hiraraki belajar menurut Gagne harus disusun dari atas kebawah atau top down. Dimulai dengan menempatkan kemampuan, pegetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi salah satu tujuan dalam proses pembelajaran dipuncak dari hirarki pembelajarn tersebut, diikuti kemampuan, keterampilan atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai lebih dahulu agar berhasil mempelajari keterampilan atau pengetahuan diatasnya. Hirarki belajar dari Gagne memungkinkan juga prasyarat yang berbeda untuk kemampuan berbeda pula. Sebagai contoh, pemecahan masalah membutuhkan aturan, prinsip, dan konsep-konsep terdefinisi sebagai prasyaratnya, yang membutuhkan konsep konkret sebagai prasyarat berikutnya, dan masih membutuhkan kemampuan membedakan (diskriminations) sebagai prasyarat berikutnya lagi (Silberman, Melvin L. 1996:56).
            Mungkin sudah sering kita mendengar bahwa obat untuk penderita penyakit malaria akan sangat berbeda dengan obat bagi penderita typhus. Ketika seseorang didiagnosis menderita penyakit malaria padahal ia menderita typhus akan mengakibatkan ketidak berhasilan dalam proses penyembuhannya, alasannya obat yang diberikan tidak akan dapat menyembuhkan penyakit yang berbeda, analogi ini dapat kita lihat pada proses pemecahan masalah belajar bagi anak didik karena suatu permsalahan anak dalam belajar akan sangat tergantung kepada keberhasilan pendidik menentukan penyebab timbulnya masalah tersebut. Selama penyebab atau akar suatu permasalahan atau penyakit belum dapat ditemukan dengan tepat, selama itu pula tindakan atau program pemecahannya dapat di kategorikan sebagai tindakan coba-coba (trial and error). Sebagai akibatnya, program pemecahan masalah tersebut kemungkinan kecil akan berhasil, kalaupun berhasil, hal tersebut dapat terjadi secara kebetulan saja. Dalam kasus memahami konsep bagi anak diperlukan kemampuan untuk menggabungkan dua konsep atau lebih. Konsep-konsep IPA, misalnya masing-masing harus dipelajari terlebih dahulu sebelum konsep-konsep tersebut dilihat atau atau ditinjau hubungannya. Sebagai contoh, jika besi dipanaskan maka akan memuai. Dari contoh ini siswa harus memahami terlebih dahulu konsep panas dan pemuaian sebelum memahami bahwa hubungan antara panas dan proses pemuaian.
            Hal penting untuk diketahui dan perlu mendapatkan perhatian serius bagi para guru dan calon guru SD adalah bersifat hirarkisnya pelajaran IPA, tidaklah mungkin seorang siswa mempelajari suatu materi tertentu jika mereka tidak memiliki pengetahuan prasyarat yang cukup. Hal ini akan berlaku sampai pada tingkat SD sampai tingkat perguruan tinggi sekalipun.
            Perlu rasanya ditekankan bagi para pendidik dan calon pendidik di sekolah dalam mengajarkan IPA, bahwa jika menemukan siswa mengalami kesulitan dalam proses belajarnya, ada baiknya guru perlu mencoba untuk berfikir jernih dalam menentukan penyebabnya, yaitu dengan menggunakan teori tentang hirarki belajar sebagai salah satu aspek pemecahannya. Seorang siswa tidak akan mampu mempelajari atau meyelesaikan tugas tertentu jika mereka tidak memiliki pengetahuan prasyarat. Karena itu, untuk memudahkan para siswa selama proses pembelajar di kelas maka, harus dimulai dengan memberi kemudahan kepada siswa dengan mengecek, mengingatkan kembali, dan memperbaiki kemampuan prasyaratnya.
 Teori Pemrosesan Informasi
            Mengapa informasi yang disampaikan guru tidak ada bekasnya sama sekali di benak para siswa dan ada juga yang tidak dapat bertahan lama dibenak meraka? Teori yang disampaikan oleh beberapa ahli tentang ‘Information Processing Learnig’ akan sangat membantu. Teori meruapakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia  di saat memroses suatu informasi yang terdiri atas tiga macam ingatan yaitu : sensory memory, atau Ingatan Inderawi (II), Ingatan Jangka Pendek atau short-time memory (IJPd) serta Ingatan Jangka Panjang atau Long-term memory (IJPj). 
           Berdasar diagram diatas, dapat disimpulkan apa yang dialami oleh guru dalam mengajar, pesan atau informasi yang disampaikan oleh guru dapat hilang seluruhnya apa bila tidak memperoleh perhatian dari siswa, atau seluruh dari ingatan siswa terhadap informasi tersebut akan hilang jika pesan atau informasi tersebut terkategori sebagai ingatan inderawi. Perhatian para siswa terhadap informasi atau masukan guru akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu informasi. Karenanya, untuk menarik perhatian siswa terhadap bahan yang disajikan, disamping selalu memotivasi seorang guru harus mampu membuat dan menggunakan teori tentang hirarki belajar dalam proses penyampaiannya selain itu dalam mengajar IPA agar selalu mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari anak dan selalu melakukan pengulangan dengan memperbanyak latihan atau mempraktekan teori-teori yang disampaikan tadi sehingga pesan atau informasi yang disampaikan tadi akan berkesan dan tersimpan di memori jangka panjang anak. Beberapa hal yang harus diperhatikan pula agar suatu pengetahuan dapat diingat oleh siswa dengan mudah adalah :
  1. Konsep yang dipahami siswa sebelumnya akan sangat membantu dan lebih mudah untuk memahami konsep selanjutnya yang berhubungan.
  2. Hal-hal yang terorganisir dengan baik akan lebih mudah diingat siswa daripad hal-hal yang belum terorganisir.
  3. Sesuatu yang menarik perhatian siswa akan lebih mudah diingat dari pada sesuatu yang tidak menarik.
Tanpa perhatian siswa, suatu informasi hanya dapat bertahan satu detik saja didalam ingatan inderawi para siswa, dengan adanya perhatian atau retensi dari siswa, informasi akan bertahan selama 20 detik di dalam ingatan jangka panjang siswa dan cenderung hilang lagi, agar tidak hilang diperlukan proses pengulangan atau repetisi sehingga informasi tersebut masuk ke dalam ingatan jangka panjangnya.
 Teori belajar Menemukan Jerome Bruner
            Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh ialah model dari Jerome Bruner dalam bukunya Ratna Wilis Dahar. (1989:36) yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Belajar penemuan sangat sesuain  dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik karena berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertaianya akan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Siswa hendaknya belajar melalui partisipasi ecara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, agar mereka memperoleh pengalaman serta melakukan eksperimen untuk menemukan konsep itu sendiri.
            Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan memberikan beberapa kebaikan bagi siswa yaitu:
  1. Pengetahuan yang diperoleh akan bertahan lama, lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan pengetahuan yang dipelajari dengan cara-cara lain
  2. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dari belajar lainnnya
  3. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penelaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas
Dengan memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang melintas difikiran mereka dengan memberi kesempatan untuk menemukan jawaban sendiri akan memeberikan manfaat yang sangat baik bagi siswa, sehingga proses belajar dapat berjalan dengan baik dan guru tidak lagi menjadi sumber informasi pengetahuan tetapi menjadi fasilitator dalam upaya pencarian siswa menemukan jawabannya sendiri.
 Teori Belajar Bermakna David Ausubel
            Salah satu belajar yang harus dihindari yang dikemukakan oleh Ausubel adalah belajar menghafal ‘belajar membeo’ atau dikenal dengan ‘rote learning’ ini sering kita jumpai pada kanak-kanak yang masih belum mampu untuk memahami suatu konsep secara utuh, tetapi lebih pada sekedar memindahkan informasi yang diperolehnya baik dari teman maupun dari guru. Intinya jika seorang anak berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya.
            Untuk menguasai suatu materi seorang anak harus mamiliki penguasaan beberapa kemampuan dasar terlebih dahulu. Setelah itu si anak harus mampu mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya, karenanya Ausubel dalam Ratna Wilis Dahar. (1989:36) menyatakan bahwa “If I had to reduce all of educational psychology to just one principle, i would say this : The most important single factor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly”. Jelaslah bahwa pengetahuan yang sudah dimiliki siswa akan sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran.
            Untuk menjelaskan tentang belajar bermakna, kita dapat memperhatika 3 dereran bilangan dibawah ini, manakah yang lebih mudah dipelajari oleh siswa?
  1. 54.918.071
  2. 17.081.945
  3. 89.107.145
Seorang siswa dapat mengingat ketiga bilangan itu, jika ia mengucapkan bilangan tersebut berulang-ulang beberapa kali, dan akhirnya ia akan berhasil juga mempelajarinya. Namun apabila bilangan tersebut dicoba untuk memberikan makna maka akan sangat jelas sekali bahwa bilangan II akan sangat mudah untuk diingat atau dipelajari karena berkaitan dengan tanggal kemerdekaan RI yaitu 17-08-1945. Proses pemebelajaran bilangan 17.081.945 (tujuh belas juta delapan puluh satu ribu sembilan ratus empat puluh lima) akan bermakna bagi siswa jika dengan bantuan gurunya angka itu dihubungkan dengan kerangka kognitif yang dimiliki siswa tentang tanggal kemerdekaan. Sedangkan bilangan III adalah bilangan yang sangat sulit dipelajari karena aturan atau polanya belum diketahui.
            Suatu proses pembelajaran akan lebih mudah dipelajari dan dimengerti jika para guru mampu memberi kemudahan bagi siswanya sedemikian sehingga para siswa dapat mengaitkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Itulah arti dari belajar bermakna (Meaningful learning) yang digagas oleg Davi Ausubel.
 PEMBAHASAN
 Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Sebagian besar orang memahami bahwa psikologi membahas tentang bagaimana seseorang belajar, tentang bagaimana orang tersebut melakukan atau melaksanakan suatu tugas, dan tentang bagaimana ia berkembang. Meskipun demikian ada beberapa pertanyaan yang terkait dengan pemebelajaran sains di SD yaitu :
  1. Daripada hanya mengkaji tentang bagaimana cara siswa berpikir ketika sedang mengerjakan tugasnya, mengapa kita tidak mengkaji bagaimana cara seseorang berfikir ketika ia sedang belajar sains?
  2. Daraipada hanya membahas atau mengkaji tentang bagaimana pemahaman konsep dapat berkembang dibenak siswa, mengapa kita tidak mengkaji tentang bagaimana pemahaman konsep Sains dapat berkembang di dalam struktur kognitif siswa?
Pemahaman teori-teori tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana mengaplikasikan teori tersebut di kelas. Para ahli mengkaji dan mempelajari hakikat belajar dari berbagai segi sehingga bisa saja terjadi kemiripan atau kesamaan antara teori yang satu dengan teori yang lainnya, saling melengkapi dan tidak tertutup kemungkinan ada teori yang saling bertentangan. Karena setiap teori mempunyai keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri, maka hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah pengguna dapat dengan tepat menggunakan keunggulan setiap teori tersebut dikelasnya masing-masing
Sains adalah pengetahuan yang telah diuji kebenarannya melalui metode ilmiah. Dengan kata lain metode ilmiah merupakan ciri khusus yang dapat dijadikan identitas dari sains. Sains dipandang sebagai suatu cara atau metode untuk dapat mengamati dunia, dimana cara pandang sains terhadap sesuatu berbeda dengan cara pandang biasa. Cara pandang sains bersifat analisis dengan melihat sesuatu secara lengkap dan cermat serta dihubungkannya dengan objek lain (Shadiq, Fajar. 1991:7).
Kebanyakan guru memilki cara berbicara kurang lebih 100-200 kata per menit. Namun berapa banyak kata yang dapat siswa dengar? Ini tergantung pada bagaimana mereka mendengarkan. Jika siswa betul-betul konsentrasi, barangkali mereka dapat mendengarkan antara 50-100 kata per menit, atau setengah dari yang dikatakan guru. Hal ini karena siswa sambil berpikir ketika mereka mendengarkan. Sulit dibandingkan dengan seorang guru yang banyak bicara. Barangkali para peserta didik tidak konsentrasi karena sangat sulit berkonsentrasi secara terus menerus dalam waktu lama, kecuali materi pelajaran menarik. Penelitian menunjukkan bahwa siswa mendengarkan (tanpa berpikir) rata-­rata 400-500 kata per menit. Ketika mendengarkan secara terus­menerus selama waktu tertentu pada seorang guru yang sedang bicara empat kali lebih lambat, siswa cenderung bosan, dan pikiran mereka akan melayang ke mana-mana.
Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi pendidik (guru) dengan peserta didik (siswa), untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam ungkapan tertentu. Interaksi ini disebut interaksi pendidikan, yaitu saling pengaruh antara pendidik dengan peserta didik.
Pendidikan berfungsi membantu siswa dalam pengembangan dirinya, yaitu pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadinya kearah yang positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan atau nilai atau pelatihan ketrampilan. Pendidikan berfungsi mengembangkan apa yang secara potensi dan aktual telah dimiliki siswa, sebab siswa bukanlah gelas kosong yang harus diisi dari luar. Mereka telah memiliki sesuatu, sedikit atau banyak, telah berkembang (teraktualisasi) atau sama sekali masih kuncup (potensial). Peran guru adalah mengaktualkan yang masih kuncup dan mengembangkan lebih lanjut apa yang sedikit atau baru sebagian teraktualisasi, semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang ada.
Dengan demikian siswa mampu mempertautkan dan memanfaatkan pengetahuan maupun ketrampilan yang mereka peroleh di sekolah dalam proses belajar di kehidupan mereka sehari-hari. Hasil akhirnya diharapkan kedalaman dan keluasan pemahaman siswa atas pengetahuan dan ketrampilan yang mereka tekuni lebih meningkat.
Penerapan proses pembelajaran yang memberikan keluasan kepada siswa untuk aktif membangun kebermaknaan sesuai dengan pemahaman yang telah mereka miliki, memerlukan serangkaian kesadaran akan makna bahwa pengetahuan tidak bersifat obyektif dan stabil, tetapi bersifat temporer dan tidak menentu, tergantung dari persepsi subyektif individu dan individu yang berpengetahuan menginterprestasikan serta mengkonstruksi suatu realisasi berdasarkan pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan (Ratna Wilis Dahar. 1989:6).
Tulisan ini bertujuan mengetahui dan memahami tentang pembelajaran konstruktivis sebagai salah satu pendekatan dalam menciptakan proses pembelajaran yang memberikan keleluasaan kepada siswa untuk aktif membangun kebermaknaan sesuai dengan pemahaman yang mereka miliki. Selain itu juga untuk mengembangkan wawasan tentang ragam sistem pembelajaran beserta subtansi pola yang ditawarkan. Sehingga akan menghasilkan hasil belajar yang efektif dan memberikan manfaat bagi peserta didik (si belajar).
 Makna dan Lingkup Kontruktivis.
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal di dalam kehidupan manusia. Dimanapun dan kapanpun di dunia ini terdapat pendidikan. Pendidikan dipandang merupakan kegiatan manusia untuk memanusiakan sendiri, yaitu manusia berbudaya. Konstruktivis sebagai suatu konsep yang banyak membicarakan masalah pembelajaran, diharapkan menjadi landasan intelektual untuk menyusun dan menganalisa problem pembelajaran dalam pergulatan dunia pendidikan. Konstruktifis berarti bersifat membangun. Dalam konteks filsafat pendidikan, konstruktifisme merupakan suatu aliran yang berupaya membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Konstruktifis berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan manusia. Menurut R. Wilis Dahar dinyatakan bahwa sebagai filsafat belajar, konstruktifisme sudah terungkap dalam tulisan ahli Filsafat Giambattista Vico 1710, yang mengemukakan bahwa orang hanya dapat benar-benar memahami apa yang dikonstruksinya sendiri. Banyak orang sepaham dengan gagasan ini tetapi yang pertama mengembangkan gagasan konstruktifisme yang ditetapkan dalam kelas dan perkembangan anak adalah Piaget.
Pandangan klasik yang selama ini berkembang adalah bahwa pengetahuan ini secara utuh dipindahkan dari fikiran guru kefikiran anak. Penelitian pendidikan sains pada tahun-tahun terakhir telah mengungkapkan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran seseorang. Pandangan terakhir inilah yang dianut oleh konstruktifisme.
Tujuan pembelajaran konstruktivistik ini ditentukan pada bagaimana belajar, yaitu menciptakan pemahaman baru yang menuntut aktifitas kreatif produktif dalam konsteks nyata yang mendorong si belajar untuk berfikir dan berfikir ulang lalu mendemonstrasikan.
Dalam teori, peran guru adalah menyediakan suasana dimana para siswa mendesain dan mengarahkan kegiatan belajar itu lebih banyak dari pada menginginkan bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, maka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan ide-ide.
Menurut teori ini, satu prinsip penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan dalam proses ini dengan memberikan kesempatan siswa untuk menentukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar siswa menjadi sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa, anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri harus memanjat anak tangga tersebut.
Sistem pendekatan konstruktivis dalam pengajaran lebih menekankan pengajaran top down daripada bottom up berarti siswa memulai dengan masalah komplek untuk dipecahkan, kemudian menemukan (dengan bimbingan guru) ketrampilan dasar yang diperlukan.
Bangunan pemahaman sekaligus penataan perilaku anak didik menjadi titik perhatian dalam pembelajaran konstruktifis. Menurut Yatim Riyanto, konstruktifistik berada dalam situasi kontras, berakar pada pengajaran cara lama yang dilaksanakan di sekolah Amerika. Secara tradisional, pembelajaran telah dipersiapkan menjadi “mimetic” (kegiatan meniru). Suatu proses yang melibatkan siswa untuk mengulangi atau meniru. Sementara di lain pihak, praktek pembelajaran konstruktif dilakukan untuk membantu siswa membentuk, mengubah diri atau mentransformasikan informasi baru (Ratna Wilis Dahar. 1989:7)
Untuk melakukan transformasi yang paling awal harus dilakukan adalah mengetahui konteks sosial pengajaran dan kemudian membedakan antara pendidikan yang membebaskan dengan pendidikan tradisional. Pada dasarnya pendidikan yang membebaskan adalah situasi dimana guru dan siswa sama-sama memiliki perbedaan. Hal demikian merupakan ujian perbedaan yang pertama pendidikan yang membebaskan dari sistem pendidikan konvensional. Di sini guru dan siswa sama-sama menjadi subyek kognitif dari upaya menjadi tabu.
Dari tujuan tentang lingkup konstruktifisme dalam pembelajaran ini, pada dasarnya ada beberapa tujuan yang ingin diwujudkan antara lain :
  1. Memotivasi siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
  2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri jawabannya.
  3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian atau pemahaman konsep secara lengkap.
  4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri
 Implikasi Konstruktivisme
            Untuk pertama kalinya, Budi mengamati magnet yang dipegang ayahnya. Ia sangat antusias sekaligus heran melihat magnet dapat menarik besi lain. Kebetulan magnet tersebut berwarna kehitam-hitaman. Tiba-tiba saja ia bertanya: “ini batu lengket ya Pak?” dari pertanyaan yang disampaikan budi tadi dapat dimunculkan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pendapat nya:
  1. Siapa yang mengajari Budi sehingga ia memberi nama ‘batu lengket ‘ untuk magnet tersebut?
  2. Mengapa ia memberi nama itu dan bukan nama lain?
  3. Salahkah jika ia memberi nama itu?
Ketika ayahnya bertanya kepada Budi tentang orang yang memberi tahukan benda itu bernama “batu lengket” ia menjawab ‘tidak ada’. Artinya, ia sendiri yang memberi nama tersebut berdasarkan konsep yang ia ketahui tentang batu dan konsep ‘lengket’. Hal itu menunjukkan bahwa ia secara aktif telah menanggapi suatu rangsangan atau informasi dari luar yang menarik hatinya. Disamping itu magnet tersebut sangat mirip dengan batu yang sering dia lihat dibelakang rumahnya. Jelaslah bahwa pemberian nama tadi telah didasarkan pada pengetahuan yang sudah ada di dalam benaknya. Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan akan tersusun atau terbangun di dalam pikiran siswa sendiri ketika ia berupaya untuk mengorganisasikan pengalaman barunya berdasar kepada kerangka kognitif yang sudah ada di dalam fikirannya. Dengan demikian pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak guru ke otak siswanya. Setiap siswa harus membangun pengetahuan itu di dalam otaknya sendiri (Ibrahim, Muslimin. 2003:34).
Konsep magnet yang telah dimiliki Budi jelas salah karena ia menganggap benda yang dapat menarik besi lain itu adalah batu. Tidak hanya Budi yang pernah berbuat salah seperti itu. Para ilmuwan zaman dahulupun pernah berbuat demikian dengan beranggapan bahwa bumi itu datar, atau beranggapan juga bahwa matahari mengelilingi bumi. Jika para ilmuwan tersebut dapat melakukan kesalahan maka wajarlah apabila siswa melakukan kesalahan serupa bahkan kadarnya jauh lebih tinggi karena keterbatasan pengalaman., penalaran dan kemampuan prasyarat mereka. Meskipun demikian, seorang siswa tidak akan memberikan jawaban yang salah dengan sengaja. Artinya, ia tetap menyakini bahwa jawaban yang mereka sampaikan adalah benar. Inti dari konstruktivisme lainnya adalah, mengajar tidak dapat disamakan dengan mengisi air ke dalam botol atau menuliskan informasi diatas kertas kosong. Proses pembelajaran akan berhasil hanya jika para siswa tersebut telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengolah dan mencerna informasi hanya jika para siswa telah bersungguh-sungguh untuk mengolah dan mencerna informasi baru tersebut dengan menyesuaikannya pada pengetahuan yang telah tersimpan di dalam kerangka kognitifnya ataupun dengan mengubah kerangka kognitifnya.
 Implikasi pada Proses Pembelajaran Sains
            Lantas mengapa sains begitu ditakuti sebagian besar siswa? Ternyata, hal itu terjadi lantaran cara belajar yang salah. ”siswa kita belajar sains secara salah. Pertama-tama, mereka harus belajar rumus, setelah itu harus mengisi soal,”. Tak heran, bila dengan cara belajar seperti itu, para siswa pun jadi tak bernafsu belajar sains. Seharusnya, yang pertama kali harus dipelajari dari sains adalah konsep atau hal-hal yang mengasyikan dan dekat dengan lingkungannya. Fenomena-fenomena alam itu dipelajari dan diteliti dengan cara yang mengasyikkan. Setelah asyik dan mengerti tujuan belajar dari fenomena itu, barulah diperkenalkan Konsep-konsep yang lebih jauh. Dengan mendapatkan dan mengalami keasyikan belajar sains serta tujuan dari belajar sains, pasti siswa akan tertarik mau mengerjakan konsep-konsep yang lebih susah.
            Sebagaimana yang telah dijelaskan, tidak setiap pengetahuan dapat dipindahkan dengan mudah dari otak guru ke pada otak para siswanya. Menurut paham konstruktivis siswa harus membangun sendiri pengetahuan yang diperolehnya. Karenanya seorang guru dituntut menjadi fasilitator proses pembelajarannya. Belajar sains baiknya disajikan oleh guru diibaratkan dengan makanan yang disajikan oleh koki. Makanan tidak akan dicerna serta pengetahuan tidak akan dibangun kedalam kerangka kognitif anak jika mereka sama sekali tidak tertarik untuk mencerna atau mempelajarinya. Agar proses pembelajaran sains dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik, para guru harus dapat meyakinkan diri bahwa siswa dalam keadaan aktif belajar. Sehingga keaktifan guru manegur, memotivasi dan membimbing para murid serta memberikan tugas yang lebih menantang kepada murid agar mau belajar dan dapat menemukan sendiri konsep-konsep sains.
            Dengan demikian penggunaan strategi pembelajaran tradisonal yang dikenal dengan beberapa istilah seperti; pembelajaran berpusat pada guru (teacher centered aproach), pembelajarn langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif (Deduktive teaching), ceramah (expository learning) dan lain-lain yang lebih menekankan kepada siswa untuk mengingat, menghafal, dan kurang atau malah tidak menekankan para siswa untuk bernalar (reasoning), memecahkan masalah (problem solving), dan pemahaman (understanding) dengan demikian maka para siswa hanya menggunakan kemampuan berfikir tingkat rendah selama proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas dan tidak memberikan kemungkinan kepada para siswa untuk berfikir dan berpartisipasi secara penuh. Pertanyaan yang dapat dimunculkan adalah, mana yang lebih baik? Siswa yang hanya pandai mengikuti hal-hal yang telah dicontohkan atau dilatihkan oleh gurunya, ataukah siswa yang kreatif, siswa yang bisa memecahkan masalah, dan mampu serta cepat memahami konsep-konsep baru?. Karena itulah, praktek pembelajaran yang hanya melatih siswa untuk mengikuti hal-hal yang telah dicontohkan gurunya seperti yang diceritakan di atas sesungguhnya tidak sesuai dengan arah pengembangan dan inovasi pendidikan kita.
 Contoh Pembelajaran Sains
Contoh pembelajarn yang lebih mengaktifkan siswa, dengan harapan siswa mampu memperoleh sebuah konsep dengan mengaitkan konsep-konsep yang telah mereka miliki di dalam struktur kognitifnya.
 Pokok Bahasan :  Makanana dan Kesehatan Kelas V Semester I
Tahap Pokok
Tahap Pembelajaran
Pilihan Kegiatan
Teknis Kegiatan di Kelas
1. Kegiatan Awal
Pendahuluan
Cerita/ Kejadian
Guru menampilkan berita/ guntingan Koran tentang terjadinya kelaparan atau penyakit busung lapar yang diderita sebagian anak di berbagai daerah Indonesia (disertai foto anak penderita busung lapar)
Pengetahuan Awal siswa
Mengumpulkan dan mendiskusikan
Siswa dapat menyebutkan atau mendapatkan informasi dari Koran tersebut bahwa anak penderita busung lapar tersebut menderita penyakit akibat kekurangan bahan makanan berdasarkan pengetahuan siswa.
2. Kegiatan Inti
Perumusan pertanyaan/ permasalahan tentang topik pembelajaran
Merumuskan pertanyaan tentang topik pembelajaran
Siswa dapat memunculkan pertanyaa. Zat apa sajakah yang dikandung oleh bahan makanan tersebut?
Kegiatan
Melakukan Percobaan
Siswa melakukan percobaan untuk mengetahui berbagai macam kandungan zat yang terdapat pada beberapa bahan makanan yang telah disiapkan oleh guru. Dan melakukan pengamatan pada uji bahan makanan tersebut.
Pengamatan
Melakukan Pengamatan sebanyak mungkin
  Jawaban pertanyaan, pemecahan masalah
Jawaban/ penjelasan dari siswa dari hasil percobaan dan merumuskan kesimpulan
Siswa menjelaskan hasil pengamatannya lewat diskusi kelas bahwa anak penderita busung lapar disebabkan karena kekurangan zat gizi yang terkandung di dalam bahan makanan seperti Karbohidrat, Protein, Lemak, dll.
3. Kegiatan
   Pemantapan
  Penerapan di lingkungan serta penanaman sikap pada anak
Anak diberikan informasi agar memakan makanan yang bergizi, mengatur pola makan dan menjaga kesehatan badan, serta ditanamkan sikap tolong menolong dalam membantu orang miskin agar tidak menderita kelaparan.
 (Ibrahim, Muslimin. 2003:37).
 Dengan penerapan kegiatan diatas dalam pembelajaran dikelas diharapkan siswa dapat berpikir reflektif yang dikenal dengan cara berpikir ilmiah (scientific approach) dan murid membentuk kemampuan untuk berfikir dengan  mengaitkan konsep-konsep yang telah dimiliki menjadi sebuah konsep baru dari permasalahan yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran ini diharapkan terjadi proses meneukan dan membangun pengetahuan sendiri terhadap permasalahan yang ada dan timbul di sekitar anak sehingga mereka memiliki senstifitas terhadap lingkungan disekitarnya dan lebih mampu menangkap konsep-konsep yang terlihat melalui fenomena alam.
 KESIMPULAN
Dalam upaya meningkatkan kemampuan kognisis anak dalam belajar kognitif, seorang pengajar patut mencari sebuah pemecahan dan memikirkan serta mempelajari psikologi pembelajaran. Pemahaman tentang psikologi dan teori-teori bagaimana siswa belajar dan bagaimana mengaplikasikan teori tersebut di kelas. Para ahli mengkaji dan mempelajari hakikat belajar dari berbagai segi sehingga bisa saja terjadi kemiripan atau kesamaan antara teori yang satu dengan teori yang lainnya, saling melengkapi dan tidak tertutup kemungkinan ada teori yang saling bertentangan. Karena setiap teori mempunyai keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri, maka hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah pengguna dapat dengan tepat menggunakan keunggulan setiap teori tersebut dikelasnya masing-masing
Belajar sains bagi anak membutuhkan pemahaman konsep dan kemampuan untuk menghubungkan antar konsep yang telah dimiliki didalam struktur kognitifnya, dengan pendekatan konstruktivisme guru diharapkan mampu untuk menjadi fasilitator bagi anak dalam upaya mengaktualkan kemampuan anak yang masih kuncup dan mengembangkan lebih lanjut apa yang sedikit atau baru sebagian teraktualisasi, semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang ada.
 DAFTAR PUSTAKA
 Ibrahim, Muslimin. 2003. Kerja Ilmiah : Pengamatan (Observasi). Modul Pelatihan Terintegrasi  Guru-Guru Mata Pelajaran Biologi. Direktorat PLP Depdiknas. Jakarta
 Ratna Wilis Dahar. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga
 Shadiq, Fajar. 1991. Belajar dari Kesalahan Siswa Untuk Menjadi Guru Berpengalaman. Suara Guru. No. 6. Jakarta
 Silberman, Melvin L. 1996. Active Learning: 101 Strategies to Teach Any Subject. Allyn and Bacon. Boston
 Sri Esti Wuryani Djiwandono. 1989. Psikologi Pendidikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Jakarta
Pembelajaran Konstruktivistik : http://www. TNIAL.mil.id.htm
 Gaya Belajar Efektif : http://www. e. Smart. Com
Mengembangkan Belajar Efektif : http://www. Tabloid Penabur.com.
Suka Sains, Why not? : http://www. Republika.co.id